Search

NATHDEAMS

A Rhythm Through The Word

Efusi

Ingatkah kamu semua canda terurai

Ingatkah kamu semua gelisah yang terbagi

Ingatkah kamu ketika kamu marah dan kembali tersenyum

Ingatkah ketika kamu mulai berani mengatakan cinta

Ingatkah kamu ketika bibir saling bertemu di bawah cahaya bulan

Ingatkah kamu ketika air mata dan peluh di bawah air hujan

Ingatkah kamu ketika kita berjalan dalam kemalangan

Ingatkah kamu ketika ku selalu tersenyum kala menjemputmu

Ingatkah kamu ketika ku selalu cemburu

Tahukah kamu kecemburuanku yang membuatku lelah

Advertisements

Quo Vadis?

Tidak akan pernah lupa bagaimana ku berani saat itu

Menyapa saat matahari memberikan senyuman yang terang

Tidak akan pernah lupa bagaimana ku tanpa sadar

Menatapmu mencari dirimu di seluruh sudut ruang

Tidak akan pernah lupa bagaimana dirimu membalas pesanku

Meninggalkan riang yang tak bisa kau bayangkan

Tidak akan pernah lupa bagaimana aku berjuang

Melawan semua ketidaksempurnaanku tuk menggapaimu

Tidak akan pernah lupa bagaimana ku bisa bersamamu

Meski sempat tersirat olehku kau hanya ingin bermain dengan waktu

Colloquium

Jangan menyapaku , sapaanmu terlalu lembut , aku takut tambah menyayangimu lagi

Tidak ada rasa yg lebih menyakitkan dari kehilangan hak tuk menyapamu..

Waktu membawa aku pergi, tapi perasaan tetap sama

Biarlah waktu membawa  pergi masa lalu..jangan dirimu

Bukannya aku yang ingin pergi, tapi secara tidak langsung sikapmu yang menyuruhku pergi

Aku tak menyuruhmu pergi..hatiku sama…namun khawatirku selalu menghantui..seberapa kah maknaku untukmu

Kamu tau? Yang tersulit itu bukan mengucapkan selamat tinggal, tapi membiasakan diri disaat kamu tak bersamaku

Kebersamaan akan lebih bermakna setelah kita merasakan kehilangan. Dan kehilangan akan lebih bermakna ketika kita saling merindukan

Bagaimana dengan rindu ? Yang tak pernah menemukan titik temu ?

 

In Absentia

Beribu menit ku lalui tanpa mu

Telah ku coba relakan dirimu bahagia tanpa ku meski sakit yang kamu rasa dan sesak yang ku pendam.

Mengapa kau selalu hadir dalam tiap hembusan nafasku membuat ku terpejam dan menemukan mu dalam setiap mimpi ku.

Ketika ku cari kemana dirimu berada, aku tersenyum kamu telah bahagia.

Mungkin dulu kau malu akan kehadiranku namun sekarang kamu tak perlu ragu dengan siapa pun yang bersama mu biar yang lain tahu.

Ku bertanya pada Tuhan untuk jawaban atas semua yang kamu berikan.

Ku menunggu hingga aku dan kamu kembali dipertemukan.

Walau kau tak lagi mau bertemu biarlah dari kejauhan ku menatapmu.

Non Me Paenitet

Walking around the city thinking about the day when you’re still with me

Nothing left inside..no.. no regret just a lil bit of compunction

So many things in my head every time I took a deep breath

Counting 1 to 10 but you seems ignore me at the end

We are never find the answer to fix all the mess together

I know you know I’m the one who blame for all this madness

You were there, laid down waiting on someone’s bed

Making you a hot chocolate leaving some chips on the plate

You were there proudly smile with that fancy lips.

Saw you in the story jumping on that motorcycle

Never thought you will be that numb

My brain refused to make another illusion and I feel like I’m blind.

by. nathdeam

DIA III

Tetesan hangat jatuh membasahi wajah manisnya

Haruskah segala penantian ini berakhir

Ketika kebodohan dan keegoisan melebur

Kata sesal tak lagi bisa mengobatinya

Kini dia terjebak dalam sumur kekecewaan

Mengapa….mengapa dia tak mencoba keluar?

Segala tanya terjawab dengan sentuhan hati

Aku berdiri pada cermin dan melihat pantulan bedebah

Membelakangi pancaran sinar bulan

Berlari tanpa tujuan

 

by. nathdeam

DIA II

Meniti ribuan menit berdua.

Aku mulai berharap, dia merasakan hal yang sama.

Tawa canda menghiasi kala ku bersamanya.

Ratusan menit terdiam kala dia membisu.

Tak pelak sering kali ku merenung.

Dia tetap menjadi peri dalam hatiku.

Dan kala semua menjadi nyata.

Ku berharap kebahagiaan itu bukan sementara.

 

nathdeam

DIA

Kala itu dia datang memberikan tirta pada hati yang mengering.

Kedua mata bertemu menyambut hati yang beku.

Ku terdiam tak ingin lagi memulai.

Suara-suara samar menghujani telingaku.

Hingga akhirnya ku tahu aku menginginkannya.

Mata ini tak pernah lepas darinya.

Perlahan gemuruh dalam dada menghempaskanku dalam khayal.

Namun ku tahu dia tak nyata untukku.

Aku takut. Aku bimbang. Aku hanyalah pecundang.

 

nathdeam

 

BAYANG

Tak pernah ku berpikir akan berpisah

Tidak. Kita tidak berpisah hanya berjauhan

Aku pun tidak peduli dengan semua yang telah terucap dan terjadi

Aku hanya berpikir untuk menjalani kehidupan sendiri

Melupakan kenangan itu dan tak lagi berdekatan

Ini bukan curahan cinta namun riwayat kemunafikan

Kini ku coba untuk melepaskan bayang itu

Bayang yang terus mengikuti ku

Bayang para hipokrit yang selalu menghantui ku

Bayang yang semakin ku sadari

Dahulu hingga kini tersenyum iri dibalik bahu ku

by. nathdeam

Blog at WordPress.com.

Up ↑