Search

NATHDEAMS

A Rhythm Through The Word

Category

POE(M)TRY

DIA III

Tetesan hangat jatuh membasahi wajah manisnya

Haruskah segala penantian ini berakhir

Ketika kebodohan dan keegoisan melebur

Kata sesal tak lagi bisa mengobatinya

Kini dia terjebak dalam sumur kekecewaan

Mengapa….mengapa dia tak mencoba keluar?

Segala tanya terjawab dengan sentuhan hati

Aku berdiri pada cermin dan melihat pantulan bedebah

Membelakangi pancaran sinar bulan

Berlari tanpa tujuan

 

by. nathdeam

DIA II

Meniti ribuan menit berdua.

Aku mulai berharap, dia merasakan hal yang sama.

Tawa canda menghiasi kala ku bersamanya.

Ratusan menit terdiam kala dia membisu.

Tak pelak sering kali ku merenung.

Dia tetap menjadi peri dalam hatiku.

Dan kala semua menjadi nyata.

Ku berharap kebahagiaan itu bukan sementara.

 

nathdeam

DIA

Kala itu dia datang memberikan tirta pada hati yang mengering.

Kedua mata bertemu menyambut hati yang beku.

Ku terdiam tak ingin lagi memulai.

Suara-suara samar menghujani telingaku.

Hingga akhirnya ku tahu aku menginginkannya.

Mata ini tak pernah lepas darinya.

Perlahan gemuruh dalam dada menghempaskanku dalam khayal.

Namun ku tahu dia tak nyata untukku.

Aku takut. Aku bimbang. Aku hanyalah pecundang.

 

nathdeam

 

DETIK

Saat menit telah habis detik akan mengganti

Detik tak hanya sosok  angka dan waktu

Namun detik adalah sebuah rongga

Rongga yang semakin lama membesar ketika kita lewati begitu saja

Ya.

Ketika detik menjadi menit dan menit menjadi jam dan jam menjadi hari

Masalah besar akan datang.

Apa yang kau lakukan? Apa yang kita lakukan?

Apa yang telah kalian perbuat kepada diri sendiri?

Apa yang telah kalian perbuat kepada makhluk lain?

Detik kini tidak lagi menjadi kasat

Membawa kita kepada masa depan tak ada bentang perubahan

Detik kini menjadi saksi mata akan manusia yang buruk rupa

 

 

by. nathdeam

 

 

RASA

Hilang dan kembali.

Bagai kabut mengganti embun pagi.

Entah apa itu rasa.

Menyentuh tiada gemuruh.

Menjauh hati mengeluh.

Rasa yang tak pergi namun menghilang.

 

by. Nathdeam

 

 

 

RUANG

Bersama dalam satu udara.

Satu nafas satu hasrat dan satu makna.

Namun berpisah dalam laku dan ucap.

Membentuk jurang tak berbukit.

Menyisakan celah tak bercahaya.

Menciptakan ruang dalam sembunyi.

Menunggu pagi hingga datang mentari.

 

by. nathdeam

SERAJUT KISAH

Serajut Kisah Dua Insan Manusia

Memulai Bicara Tanpa Suara

Berharap Pada Setitik Asa

Menyiratkan Hadirnya Rasa

 

Serajut Kisah Dua Insan Manusia

Menyatukan Antara Aku dan Dia

Menyerukan Kebahagiaan Wanita

Menyelimuti Kerinduan Jiwa


Serajut Kisah Dua Insan Manusia

Tak Sangka Aku – Dia Bersama

Terbakar Api Menjadi Jelaga

Terhempas Menuju Nirwana

 

Serajut Kisah Dua Insan Manusia

Terpisah Oleh Pandangan Mata

Menanti Waktu Kembali Bersama

Berdua Hingga Telah Habis Usia

 

by. nathdeam

TERBAKAR

Ingat kah kau setahun yang lalu?

Aku dan kamu bertemu di antara ribuan manusia yang ada dalam ruang itu.

Ruang yang mempertemukan kita untuk saling menegur hati dan rasa.

Mempertaruhkan semua untuk dapat saling mencinta.

Ketika itu semua menjadi indah, kau menjadi irama dalam lantunan hidupku.

Terbayangkan aku selalu oleh suaramu menemani kehangatan di dalam batinku.

Semua begitu indah..

Hingga aku tak dapat merasakan percikan api yang sering kau hembus.

Ya, api. Api itu meletup-letup kecil di tubuhku. Panas. Perih. Aku meradang.

Dengan sabar aku coba memahaminya,  memadamkan percikan api yang bisa melukaiku.

Aku memang bukan seorang batara, aku bukan seorang yang sempurna, yang mengerti bagaimana caranya mencinta.

Aku bukanlah dia atau mereka yang mengiris jantungmu. Aku adalah aku.

Setahun berlalu..kau dan aku.. kita berhasrat sama.. bernafsu dalam menjalin untaian kisah berdua.

Dalam tarian lidah menyunting halaman demi halaman yang berlalu.

Mengungkap janji mencoba lari dari separasi yang menghantui nyali.

Namun janji-janji rapuh terbakar dibalik lidah tumpul yang tak bertulang. Mengikis rasa

yang menjadi nyawa dalam jutaan kata rindu dan sayang.

Aku terluka kau terluka oleh tutur pedih yang menjadi debu melayang memejam mata

mengalir kristal bening tak terkira jumlahnya.

Kita terbakar oleh sebuah filantropi asmara, terbakar karena kasih sempurna, terbakar karena ego manusia.

Aku tak ingin aku dan kamu semakin terbakar.

Aku tak ingin aku dan kamu terbakar untuk berjuta kalinya.

Ketika kata menyunting cerita lelah memaksa hati mencoba kembali.

Mencoba untuk tetap berada dalam sebuah ikatan janji.

by. nathdeam

MERETAS HENING

Ketika kata tak lagi berucap dan mulut tak lagi bicara

Hanya ada rindu kian memuncak diantara sepi

Membuat ramainya sekeliling hanya terasa sunyi

Begitu lelah diri ini untuk selalu mencoba

 

Mungkin aku tak akan bisa melihatnya kembali

Mungkin aku harus menjadi yang dulu

Seseorang yang tak pernah peduli dengan hati

Seseorang yang melangkah tanpa ragu

 

Berhenti mengejar bayang yang bahkan tidak bertuan

Entah kemana aku harus berjalan lagi

Semakin merana dalam hening sang tuan

Menunggu kembali suara dalam peranti

 

Ku hampiri sang tuan ku coba meretas hening

Begitu besar kepedihan yang terurai

Begitu dalam sesal hati membuntang

Begitu berat harus mengakui

Kala semua telah usai

 

by. nathdeam

 

*copy dari tulisan yang sudah ada di blog sebelumnya

Blog at WordPress.com.

Up ↑